kritik Ekstern dan Intern

Nama              : M. Zulkarnaen

Nim                 : 074284027

Jurusan       : Pend. Sejarah

1. Apa beda antara kritik intern dan ekstern ? Terangkan cara untuk membuktikan keduanya !

Perbedaan kritik Ekstern dan Intern dan cara untuk membuktikan keduanya :

1.   Kritik Ekstern

-   Kritik Ekstern digunakan untuk memperoleh keabsahan tentang keaslian sumber (otentitas)

-   Kritik ekstern digunakan untuk memperbedakan satu tipuan atau suatu misrepresentasi dari sebuah dokumen yang sejati, karena pemalsuan dokumen dalam keseluruhan atau untuk sebagian, meskipun bukan merupakan suatu hal yang biasa, namun cukup sering terjadi, sehingga seorang sejarawan yang cermat harus senantiasa waspada terhadapnya.

-   Kritik ekstern digunakan untuk usaha menetapkan suatu teks yang akurat yang oleh para ahli filologi disebut “Kritik Teks”, sedangkan didalam studi Injil juga disebut “Kritik Rendah”, sjarawan telah meminjam teknik dari ahli filologi dan kritikus Injil.

-   Kritik ekstern digunakan untuk mereforasi teks, yaitu dengan cara mengumpulkan beberapa copian teks, untuk kemudian dibandingkan dan dianalisis. Dalam hal ini sejarawan membutuhkan ilmu bantu sejarah, karena pada akhir-akhir ini, ilmiawan sosial seperti ahli pendidikan, anthropologi, psikologi dan sosiologi telah menerbitkan Questionaire, Poll Opinio umum, statistik mengenai penduduk dan perubahan sosial, dsb. Dan kesimpulan yang diperolh dari material semacam itu dan dari apa yang dinamakan “Dokumen Pribadi” atau otobiografi yang dikumpulkan oleh ilmiawan sosial selama ini.

-   Kritik ekstern digunakan untuk mengidentifikasi pengarang dan tanggal.

2.    Kritik intern

-   Kritik intern digunakan untuk meneliti keabsahan tentang kesahihan sumber (kredibilitas)

-   Kritik intern digunakan untuk menganalisis pembuktian kebenaran sebuah fakta sejarah.

-   Kritik intern menggunakan Hipotesa Interogatif, karena hipotesa ini lebih baik dibandingkan dalam bentuk deklaratif, hipotesa interogatif bersifat tidak mengikat sebelum semua bukti selesai diperiksa. Dan sedikit membantu sejarawan untuk memecahkan suatu masalah karena pertanyaan tersebut langsung menuju ke jawaban.

-   Kritik intern digunakan untuk melakukan pencarian terhadap detail khusus daripada kesaksian, karena fakta sejarah harus mengandung empat aspek subyek sejarah, yaitu: aspek biografis, aspek geografis, aspek kronologis, dan aspek fungsionil.

-   Kritik intern digunakan untuk melakukan penilaian pribadi, yaitu kemampuan dan kemauan daripada saksi untuk memberikan kesaksian yang dapat diandalkan, yang ditentukan oleh sejumlah faktor didalam personalitas dan situasi sosial, yang kadang disebut “unsur pribadinya” (personal equation).

-   Kritik intern menggunakan aturan-aturan umum, Dimana seorang sejarawan  adalah penuntut , pembela, hakim, dan juri menjadi satu. Dan sebagai hakim ia tidak mengesampingkan bukti apapun asal relevan. Kesaksian yang  kredibel harus  lulus empat ujian. Dan yang  merupakan subyek pemeriksaan adalah saksi primer dan detailnya, bukan seluruh sumber sebagai keseluruhan.

-   Kritik intern digunakan untuk menganalisis kemampuan untuk menyatakan kebenaran.

2. Gambarkan secara singkat mengajar teknik-teknik sejarah yang disampaikan oleh Louis Gatschalk ( Bab VIII ) kemudian komentari langkah tersebut menurut Saudara!

Menerangkan Teknik Sejarah yang Disampaikan Louis Gottschalk

Langkah-langkah penting yang harus diperhatikan untuk melakukan penulisan sejarah menurut Louis Gottschalk adalah:

a.       Pengumpulan data (Heuristik)

b.      Kritik

c.       Interpretasi

d.      Historiografi (Penulisan Sejarah)

Dari langkah-langkah tersebut dapat dijelaskan bahwa langkah pertama yang harus dilakukan adalah menyeleksi sumber sumber sejarah yang akan digunakan sebagai data, serta referensi dalam menulis sejarah. Kemudian meneliti saksi saksi yang berhubungan dengan peristiwa yang diteliti. Selanjutnya mengklarifikasi data yang diperoleh terhadap fakta yang terjadi di masa lalu agar data dan fakta yang ditulis bersifat sinkron. Klarifikasi data ini dapat dilakukan dengan alat bantu yakni sebagai berikut:

a. Katalog: berfungsi untuk memudahkan peneliti menemukan sebuah buku yang diketahui dari pengarang, judul atau subyeknya ,untuk menunjukkan apa yang dimiliki suatu perpustakaan oleh pengarang tertentu, pada subyek tertentu, dalam jenis literatur tertentu, membantu dalam pemilihan buku berdasarkan edisinya atau berdasarkan karakternya dan bentuk tulisan.

b. Bibliografis: Berfungsi sebagai penunjuk referensi berupa sumber buku yang digunakan dalam menulis suatu karya sejarah. Jika catatan kaki letaknya dihalaman bawah buku sebagai penunjuk referensi dari kutipan isi buku orang lain, tetapi bibliografis adalah kumpulan artikel dari beberapa sumber milik orang lain yang dikutip dan diberi keterangan lewat catatan dan daftar pustaka.

 c. Majalah Sejarah atau media masa: berfungsi sebagai alat bantu komposisi dan inspirasi serta pembanding suatu peristiwa berupa fakta maupun opini di masa lalu.

Dari beberapa alat bantu tersebut,harus bersikap kritis terhadap informasi yang diperoleh dengan cara mengidentifikasi informasi yang didapatkan serta menganalisis informasi tersebut untuk diolah. Dokumen yang didapatkan baik sumber tertulis, maupun rekaman harus disinkronkan dari faktor otentisitas. Kemudian sebelum memulai menulis, harus memperhatikan tata bahasa atau langgam,apakah kisah sejarah yang ditulis itu berbentuk”Past” atau berbentuk “Present”. Sehingga dalam hal ini, harus benar-benar jeli dan teliti dalam mengkombinasi data dari sumber,setelah draft sejarah selesai di tulis,ditarik kesimpulan dari apa yang di tulis.

Menurut pendapat saya, tentang teknik sejarah yang dikemukakan oleh Louis Gottschalk tersebut sudah baik. Tiap langkah dalam teknik yang disampaikan Louis Gottschalk tersebut sudah mampu mendeskripsikan nantinya akan menghasilkan suatu laporan penelitian sejarah yang baik dan terstruktur apabila peneliti benar-benar menjadikan teknik terebut sebagai rambu-rambu dalam penulisan laporan sejarahnya tanpa menghilangkan atau melewati salah satu dari step atau langkah yang telah ditentukan.

3.      Bagaimana cara yang paling baik bagi sejarawan untuk memberi sumbangan pada usaha mengerti masyarakat dan hubungannya dengan generalisasi sosial ( hal 184 ). Beri contoh pada kasus Indonesia !

CARA YANG BAIK BAGI SEJARAWAN UNTUK MENGERTI MASYARAKAT

v     ØCara yang paling baik bagi sejarawan untuk menyumbangkan kepada usaha mengerti masyarakat dan hubungannya dengan generalisasi sosiologi adalah dengan menemukan kontradiksi dan pengecualian dalam generalisasi ilmu social. Seorang generalisator mudah beranggapan bahwa perkecualian-perkecualian malahan membuktikan kebenaran dalilnya. Tapi kadang-kadang perkecualian merupakan satu-satunya jalan dari suatu jalan buntu logika. Karena beberapa ilmu sosial didasarkan atas contoh-contoh sejarah yang yang dipilih oleh sejarawan (atau oleh sarjana ilmu sosial sebagai sejarawan) hanya karena ia berminat pada pengertian itu atau dipengaruhi olehnya. Dari permasalahan tersebut, argumen akan disimpulkan mengarahkan sesorang untuk menemukan premis yang disimpulkan sebagai suatu interpretasi terhadap peristiwa. Hal ini bertujuan untuk mendapatkan generalisasi masalah,dalam konteks masalah yang dibahas.

Contoh pada kasus di Indonesia yakni: Pada masa orde baru. Pemerintahan Suharto yang dikenal makmur menimbulkan suatu pro-kontra. Sebagai masyarakat Indonesia mayoritas masyarakat akan menciptakan situasi sosial yang positif dan negatif. Situasi negatif contohnya adalah kontroversi tentang supersemar. Dengan demikian, sejarawan menjadi dua kali lebih berguna dalam disiplin-disiplin yang berusaha mengerti masyarakat. Ia tidak hanya merupakan pencari data bagi ilmuan siosial, tetapi juga melakukan pengecekan terhadap validitas daripada pengerian atau konsep ilmu sosial bagi masyarakat.

4. Coba terangkan intisari metode sejarah setelah itu buatlah proposal penelitian sejarah!

INTISARI METODE SEJARAH

Intisari metode sejarah merupakan suatu kerangka berfikir atau prosedur yang dirumuskan menggunakan suatu metode ilmiah dalam penelitian. Dalam penelitian sejarah ada metode penelitian yang digunakan yakni menggunakan metode yang sudah dijelaskan diatas, langkah-langkah metode sejarah, sbb:

a)   Heuristik, yaitu proses mencari dan menemukan sumber-sumber yang diperlukan.

b)   Kritik, terhadap sumber terdiri dari kritik ekstern dan intern. Kritik ekstern pengujian terhadap otentikitas, asli, turunan, relevan tidaknya suatu sumber. Sedangkan kritik intern yaitu pengujian terhadap isi atau kandungan sumber. Tujuan kritik untuk menyeleksi data menjadi fakta.

c)   Interpretasi, atau penafsiran. Pada tahap interpretasi sejarawan mencari saling hubung antar berbagai fakta yang telah ditemukan, kemudian menafsirkannya.

d)   Historiografi, yaitu tahap penulisan sejarah. Pada tahap ini rangkaian fakta yang telah ditafsirkan disajikan secara tertulis sebagai kisah atau ceritera sejarah.

PROPOSAL PENELITIAN

PERJUANGAN OERIP SUMOHARDJO

DALAM REVOLUSI KEMERDEKAAN INDONESIA 1945-1948

A.     Latar Belakang Masalah

Kehilangan daya tempur di udara maupun di laut sejak tahun 1944, membuat tentara Jepang kehilangan daya ofensif dan terbatas pada kegiatan defensif semata-mata. Ketika pihak Amerika Serikat menjatuhkan bom atomnya di Hirosima pada tanggal 6 Agustus dan di Nagasaki pada tanggal 9 Agustus 1945, pihak Jepang menyadari bahwa mereka sudah tidak lagi mampu menjamin keselamatan Tenno Heika dan rakyatnya di daratannya sendiri. Pada tanggal 15 Agustus 1945 Jepang menyerah kepada sekutu[1]. Mengetahui kekalahan Jepang terhadap sekutu para golongan muda yaitu Chaerul Saleh, Wikana dan Sukarni menemui Soekarno ditempat tinggalnya di Jalan Pegangasaan Timur No.56 Jakarta untuk secepatnya melaksanakan proklamasi. Sejak tanggal 14 Agustus 1945 secara formil di Indonesia terdapat vocuum of power (kekosongan kekuasaan), maka bangsa Indonesia memproklamasikan kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945 di rumah Ir. Soekarno di Jalan Pegangasaan Timur No.56 Jakarta. Pada tanggal 18 Agustus 1945 diadakan sidang pertama PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia) dalam sidang pertamanya menghasilkan keputusan-keputusan sebagai berikut:

  1. Mengesahkan Undang-Undang Dasar Negara
  2. Memilih Presiden dan Wakil Presiden, yakni Ir. Soekarno dan Drs. Moh. Hatta
  3. Presiden untuk sementara waktu akan dibantu oleh sebuah Komite Nasional.[2]

Sidang kedua pada tanggal 19 Agustus 1945 PPKI berhasil membentuk Departemen yang terdiri dari 12 kementrian. Selain itu wilayah Republik Indonesia dibagi menjadi 8 Propinsi. Pada tanggal 22 Agustus 1945 PPKI memutuskan tentang pembentukan Badan Keamanan Rakyat (BKR), Komite Nasional Indonesia, dan Partai Nasional Indonesia. Dari tiga kepuusan ini hanya dua yang dapat diwujudkan yakni tentang Badan Keamanan Rakyat (BKR) dan Komite Nasional Indonesia.[3]

Dengan disetujuinya BKR dan Komite Nasional, maka Seiring dengan kebutuhan adanya tentara dalam suatu negara padan tanggal 5 Oktober 1945, Presiden Sukarno mengeluarkan maklumat mengenai pembentukan Tentara Keamanan Rakyat (TKR). Untuk melaksanakan orgaisasi tentara yang baru lahir ditunjuklah bekas Mayor KNIL Oerip Sumohardjo dipanggil oleh presiden ke Jakarta dan menerima keputusan tentang pembentukan TKR. Oerip Sumohardjo, yang diangkat menjadi kepala Markas Besar Umum dengan pangkat letnan jendral, segera memulai melaksanakan tugasnya. Karena pada awal kemerdekaan pemerintahan dipindahkan atau berpusat di Yogyakarta, maka Oerip Soemohardjo menjadikan Yogyakarta sebagai tempat kedudukan Markas Besar Umum TKR, karena situasi keamanan nasional. Setelah satu setengah bulan meletakkan landasan organisasi TKR, Urip Sumoharjo memantapkan personilnya.

Berhubung permintaan untuk mengangkat panglima TKR yang baru ditolak, maka pada tanggal 12 November 1945 diadakan konferensi para Panglima Divisi di Jawa dan Sumatera. Konferensi ini dilaksanakan untuk memilih Panglima TKR karena Supriyadi yang telah ditunjuk pemerintah sebagai penglima TKR tidak pernah muncul, sementara pemerintah tidak merespon permintaan  Markas Tinggi Tentara Keamanan Rakyat (MTTKR) untuk mengangkat panglima baru. Konferensi tersebut memilih Kolonel Sudirman, Panglima dari divisi V Purwokerto sebagai Panglima Tertinggi TKR. [4]

Dengan terbentuknya Tentara Keamanan Rakyat (TKR) pada tanggal 5 Oktober 1945, Mayor Oerip Soemohardjo dipercaya untuk menyusun organisasi tentara dan susunan tentara berpola sama dengan susunan Departemen Perang Hindia-Belanda yang terdiri atas Komandemen dan Divisi. Melalui pertimbangan yang matang, maka Markas Tertinggi TKR (MTTKR) membentuk 3 Komandemen di Jawa dengan 10 Divisi dan 1 Komademen di Sumatera dengan 6 Divisi. Tanggal 7 Januari 1946, dalam rangka penyempurnaan tentara, nama Tentara Keamanan Rakyat diubah 
menjadi Tentara Keselamatan Rakyat (TKR). Pada tanggal 25 Januari 1946 melalui ketetapan Pemerintah No:4/S.D./1946, Tentara Keselamatan Rakyat (TKR) kembali diubah namanya menjadi Tentara Republik Indonesia (TRI).[5]

 Pada masa TRI Oerip Soemohardjo kembali diubah susunan organisasinya. Hal ini dilakukan untuk memudahkan dalam kerja. Komandemen sudah tidak ada lagi dan jumlah divisi dikurangi, hanya ada 7 Divisi sedangkan di Sumatera masih tetap 6 Divisi. Pemerintah membentuk panitia Reorganisasi Tentara yang diketuai langsung oleh Presiden. Tanggal 3 Juni 1947 ditetapkan hasilnya yakni bahwa seluruh Angkatan Perang Indonesia baik TRI maupun laskar-laskar perjuangan dimasukan serentak kedalam Tentara Nasional Indonesia (TNI). Usaha ini direalisasikan melalui ketetapan pemerintah tanggal 3 Juni 1947 dalam berita Negara Republik Indonesia No.4 tahun 1947 yang salah satu isinya mengesahkan berdirinya Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan membubarkan bentuk laskar serta 
angkatan perang lain yang bersenjata.

Setelah TNI terbentuk maka di Indonesia sudah tidak ada lagi dualisme kekuatan bersenjata, hanya ada satu pasukan bersenjata di Indonesia yang siap menjaga keutuhan Negara 
Kesatuan Republik Indonesia, yakni Tentara Nasional Indonesia. 
Terbentuknya TNI tidak bisa dilepaskan pada peran aktifnya Letnan Jenderal Oerip Soemohardjo, seorang Purnawirawan KNIL yang mengabdikan dirinya untuk tanah airnya tercinta.

Dalam mempertahankan kemerdekaan yang telah di proklamasikan pada tanggal 17 Agustus 1945, telah muncul berbagai persoalan pada saat pembentukan tentara nasional. Permasalahan yang muncul pada pembentukan TNI harus diperhatikan agar upaya pencapaian keamanan dan ketertiban masyarakat dapat terwujud. Orang yang dianggap mampu untuk membentuk dan menyatukan organisasi-organisasi bersenjata dalam satu organisasi adalah Oerip Sumohardjo, karena Oerip Sumohardjo menerima tugas dalam pembentukan yang pertama dan menerima instruksi untuk membentuk tentara. Bersama-sama dengan Letnan Jendral Sudirman, Oerip Sumohardjo mempunyai tugas untuk membentuk dan menyusun tentara nasional. Berdasarkan uraian diatas maka peneliti mengambil judul “Pengabdian Oerip sumohardjo dalam kemrdekaan Indonesia dan pembentukan Tentara Nasional Indonesia (TNI) 1945-1948”.

B.     Batasan  Masalah           

Dalam penelitian ini, pokok kajian akan dibatasi secara temporal mulai tahun 1945 sampai 1948. Dimulai dari tahun 1945 karena pada tahun itu Oerip Sumohardjo ditunjuk dan diangkat sebagai KSAP, kemudian diakhiri pada tahun 1948 karena pada tahun itu Oerip Sumohardjo meninggal dunia.

C.     Rumusan Masalah

Dari uraian yang telah dituliskan diatas, maka dapat dirumuskan masalah sebagai berikut:

  1. Bagaimana aktivitas kehidupan kemiliteran Oerip sumohardjo?
  2. Berperan apa Oerip sumohardjo dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia?
  3. Bagaimana peran Oerip Soemoharjo dalam penataan TNI?

D.    Tujuan Penelitian

Penelitian Peranan Oriep Sumoharjo dalam pembetukan Tentara Nasional Indonesia 1945-1948 bertujuan untuk:

1.   Untuk menjelaskan aktivitas kehidupan kemiliteran Oerip sumohardjo.

2. Untuk menjelaskan peran Oerip Sumohardjo dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

3.   Menjelaskan peran Oerip Sumohardjo dalam pembentukan TNI.

E.     Manfaat Penelitian

Manfaat dari penelitia ini adalah:

1. Dapat menambah pengetahuan sejarah militer khususnya tentang terbentuknya Tentara Nasional Indonesia

2.   Dapat menjadi bahan pada proses belajar dan mengajar

F.      Kajian Pustaka

Buku-buku dan karya-karya yang membahas tentang Oerip Soemohardjo telahbanyak ditebitkan, tetapi buku-buku itu lebih banyak membahas topik secara umum atau topik-topik khususnya dibahas hanya sekilas saja. Beberapa buku yang dijadikan perbandingan dalam tema ini antara lain: Karya Yanto Bashri dan Retno Suffatni yang berjudul Seajrah Tokoh Bangsa. Dalam karya tersebut Yanto Bashri mengungkap tentang tokoh-tokoh bangsa Indonesia termasuk Oerip Soemohardjo.

Karya lain yaitu karya Rohmah Soemohardjo yang berjudul Oerip Soemoharjdo Letnan Jendral TNI 1893-1948. Dalam karya tersebut Rohmah Soemohardjo mengungkapkan tentang biografi Oerip Soemohardjo masa hidupnya. Karya ini memfokuskan pada kehidupak Oerip Soemohardjo sejak lahir sampai meninggal.

Karya lain yaitu karya DR.A.H.Nasution yang berjudul sekitar perang kemerdekaan Indonesia jilid 4. Dimana dalam karya tersebut banyak membahas tentang perjanjian Linggajati, dimana Oerip Soemoharjdo juga berperan dalam perjanjian tersebut. Dimana Oerip Soemohardjo ditak setuju atau kecewa atas keputusan dari perjanjian Linggajati, dimana Belanda hanya mengakui wilayah Indonesia atas Sumatra, Jawa, dan Madura.

Karya-karya yang telah disebutkan diatas dapat dijadikan sebagai pembanding dan referensi pelengkap bagi penelitian ini. Karya-karya yang telah ada dapat dilihat bahwa masih sangat perlu digali informasi-informasi sejarah untuk dapat menerangkan lebih detail tentang perjalanan Oerip Soemohardjo pada tahun 1945-1948 dengan menggunakan metode sejarah. Pada karya-karya yang telah disebutkan diatas terdapat persamaan dan perbedaan.persamaan tersebut yaitu Oerip Soemohardjo sebagai kepala Markas Besar Umum dengan pangkat letnan jendral.

Penelitian ini megambil tema tema perjuangan Oerip Soemohardjo 1945-1948, dengan memfokuskan pada pengabdian Oerip Soemohrdjo.

Dalam skripsi ini penulis menitik beratkan pada pengabdian Oerip Soemohardjo antara tahun 1945-1948yang memiliki peran penting dalam perjalanan sejarah meraih dan mengisi kemerdekaan bangsa Indonesia. Pengabdian Oerip Soemohardjo sebagai kepala Markas Besar Umum pada awal kemerdekaan menjadikannya oarng penting di dunia militer. Dimana Oerip Soemohardjo juga ikut berperan dalam pembentukan TNI.

G.    Metode penelitian

Dalam penelitian ini, peneliti menerapkan metode penelitian sejarah yang secara sistematis terdiri atas empat langkah, yaitu heuristik, kritik, interpretasi dan historiografi.[6]

Tahapan heuristik sebagai langkah awal mengacu pada proses pencarian sumber-sumber sejarah yang berkaitan dengan Perjuangan Oerip Sumohardjo dalam revolusi kemrdekaan Indonesia dan pembentukan Tentara Nasional Indonesia (TNI) 1945-1948

            Pada tahap heuristik yang dilakukan peneliti adalah mencari dan mengumpulkan sumber yang berupa dokumen atau surat kabar sejaman. Tahapan ini sangat penting karena menentukan keabsahan tulisan. Sumber primer yang berupa sumber tulisan yaitu surat kabar sejaman memberikan informasi berupa objek yang dikaji. Surat kabar  diperoleh penulis pada saat melakukan study lapangan di Perpustakaan Nasional Jakarta. Sumber-sumber yang diperoleh antara lain; surat kabar berupa riwayat hidup Oerip Sumohardjo dan terbentuknya TNI yang berada di Arsip Nasional Indonesia (ANRI) Jakarta. Selain sumber yang bersifat primer dalam penulisan ini juga menggunakan sumber sekunder baik yang berbentuk buku, referensi, literature, majalah, Koran dan lain-lain.sepetri sejarah tokoh bangsa, sekitar perang kemerdekaan Indonesia dll.

Beberapa buku sebagai sumber tambahan referensi di Perpustakaan Nasional Jakarta yang mendukung penelitian juga peneliti dapatkan. Peneliti juga mencari sumber-sumber sekunder sebagai penunjang penelitian yang diperoleh dari Perpustakaan Universitas Negeri Surabaya (UNESA), Perpustakaan Daerah Surabaya, Perpustakaan Medayu Agung Surabaya.

Sumber-sumber sejarah yang diperoleh peneliti, dilanjutkan pada tahapan kritik (pengujian) intern maupun ekstern untuk mendapatkan fakta sejarah. Kritik intern, pengujian terhadap isi atau kandungan sumber, peneliti membandingkan sumber yang satu dengan yang lainnya dengan membaca sumber. Pada dasarnya kritik berfungsi menyeleksi data dari fakta-fakta yang telah ditemukan untuk menjadi fakta sejarah sehingga dapat mendukung proses analisis.[7] Berita-berita yang ditulis dalam surat kabar  pada umumnya merupakan cerminan kondisi sosial masyarakat pada masa itu. Kritik-kritik tajam yang dilontarkan surat kabar tersebut sebagai suatu sikap protes terhadap tindakan penyelewengan/ penyimpangan yang dilakukan pemerintah tidak pro-rakyat yang disalurkan  melalui penyaluran pemikiran dalam bentuk tulisan.

Tahapan selanjutnya yang dilakukan setelah kritik adalah interpretasi atau penafsiran, fakta-fakta yang diperoleh kemudian disusun secara kronologis untuk mendapatkan suatu hubungan fakta satu dengan fakta lainnya. Pada tahap interpretasi ini peneliti melakukan analisis dan sintesis. Melalui analisis peneliti menguraikan fakta-fakta sejarah. Dalam sintesis penulis menggabungkan atau menyatukan fakta-fakta sejarah tersebut secara kronologis.

Pada tahapan selanjutnya yaitu historiografi yang merupakan langkah akhir, yaitu proses penulisan fakta-fakta sejarah yang sudah diintepretasikan berdasarkan tahapan analisis dan sintesis, sehingga peneliti mendapatkan gambaran tentang  kasus pembredelan yang dialami surat kabar . Dari gambaran tersebut kemudian penelitian ditulis dalam bentuk skripsi sebagai langkah terakhir yang berjudul Pengabdian Oerip Sumohardjo dalam kemrdekaan Indonesia dan pembentukan Tentara Nasional Indonesia (TNI) 1945-1948

 H.    Sistematika

Sistematika penulisan skripsi ini disusun sebagai berikut:

Bab I merupan bab pendahuluan. Dalam bab ini penulis menjelaskan latarbelakang masalah, batasan masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, kajian pustaka, dan sistematika penelitian.

Bab II tentang biografi Oerip Soemohardjo yang didalamnya membahas tentang Oerip waktu kecil, semasa remaja, dan dewasa serta latar belakang intelktual Oerip Soemohardjo.

Bab III tentang perjalanan karier Oerip Soemohardjo dalam usaha ikut meraih dan mengisi kemerdekaan bangsa Indonesia pada tau 1945-1948 yang didalamnya membahas pengabdian Oerip Soemohardjo sebagai ketua Markas Besar Umum, kepala Staf.

Bab IV membahas tentang kesimpulan atas keseluruhan pembahasan skripsi ini yang diharapkan dapat menarik benang merah dari uraian pada bab-bab sebelumnya.

 


[1]. Penyerahan Jepang secara tiba-tiba demikian, menempatkan Sekutu dalam keadaan tidak siap sehingga tentara Sekutu tidak segera dapan mengambil alih banyak daerah pendudukan Jepang yang mana pihak Jepang bersedia menyerahkan diri dikawasan Asia  dan Pasifik.

[2]. Nugroho Notosusanto. 1977. Sejarah Nasional Indonesia jilid VI. Jakarta: Balai pustaka. Hal. 29

[3] Ibid. Hal. 30

[4] Drs. Amrin Imran. 1983. Urip Sumohardjo. Jakarta: Dinas Pendidikan dan Kebudayaan. Hal. 74-75

[5] Nasution, AH. 1963. Tentara Nasional Indonesia. Yogyakarta : Seruling mas. Hal. 284

            [6] Aminuddin Kasdi. 2005. Memahami Sejarah. Surabaya : Unesa Univ.Press. Hlm.10

[7] Ibid.

metodologi sejarah

Istilah sejarah secara harafiah berasal dari kata Arab (شجرة: šajaratun) yang artinya pohon. Dalam bahasa Arab sendiri, sejarah disebut tarikh (تاريخ ). Adapun kata tarikh dalam bahasa Indonesia artinya kurang lebih adalah waktu atau penanggalan. Kata Sejarah lebih dekat pada bahasa Yunani yaitu historia yang berarti ilmu atau orang pandai. Kemudian dalam bahasa Inggris menjadi history, yang berarti masa lalu manusia. Kata lain yang mendekati acuan tersebut adalah Geschichte yang berarti sudah terjadi.

Manusia dalam dimensi waktu, selalu memberikan sisi misteriusnya yang sulit untuk dijelaskan secara ilmiah. Aspek pemikiran manusia dalam hal inovasi memang terus mengalami perkembangan yang signifikan sesuai dengan perkembangan zaman. Hal ini merupakan salah satu faktor pendorong lahirnya gerak sejarah. Munculnya sebuah peradaban dalam realita historis telah membantu kehidupan manusia masa kini, dan bahkan, di masa depan. Sejarah dijadikan sebagai sebuah alur pijakan dalam merevitalisasi setiap aspek internal dalam struktur sosial umat manusia.

Rekonstruksi Masa Lalu

Menurut Prof. Dr. Djoko Soerjo, M.A. (Guru Besar Sejarah di Universitas Gajah Mada dan dosen luar bisaa di Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta), sejarah adalah rekonstruksi masa lalu, yaitu merekonstruksi apa saja yang sudah dipikirkan, dikerjakan, dikatakan, dirasakan, dan dialami oleh seseorang. Namun, perlu ditegaskan bahwa membangun kembali masa lalu (rekonstruksi) bukanlah untuk kepentingan masa lalu itu sendiri. Sejarah memiliki kepentingan masa kini dan, bahkan, untuk masa yang akan datang. Oleh karena itu, orang tidak akan belajar dan mengkaji sejarah kalau tidak ada gunanya bagi kehidupan, dan kenyataannya, sejarah terus menerus dituliskan di setiap peradaban dan sepanjang waktu. Hal ini sebenarnya cukup bisa membuktikan bahwa sejarah itu adalah sangat diperlukan. (Nor Huda, 2007: 13)

Hal inilah yang menjadi dasar dari perlunya mempelajari dan merealisasikan nilai moral (morality value) dalam kisah sejarah di masa lampau. Eksistensi sebuah peradaban memiliki beragam budaya dan nilai yang reflektif. Sartono Kartodirdjo dalam buku Pendekatan Ilmu Sosial Dalam Metodologi Sejarah (1993: 14), menyatakan bahwa sejarah dalam arti subjektif merupakan sebuah konstruk, yakni bangunan yang disusun oleh penulis sejarah sebagai suatu uraian atau cerita. Uraian itu merupakan suatu kesatuan atau unit yang mencakup fakta-fakta terangkaikan untuk menggambarkan suatu gejala sejarah, baik aspek proses maupun aspek struktur daripada sejarah itu sendiri.

Kesatuan koheren inilah yang menimbulkan keutuhan bangunan sejarah. Sejarah adalah konstruksi yang saling berkaitan satu sama lain. Unsur determinan dalam aspek kausalitas sejarah selalu mendapat dukungan dari formal causa dan final causa. Sejarawan selalu bekerja dengan dokumen, yakni data dan fakta yang valid. Tidak ada dokumen berarti tidak ada sejarawan, dan selanjutnya tidak ada sejarah sebagai satu kesatuan yang utuh. Value atau nilai sangat bergantung dari dokumen yang digunakan.

Aktualisasi Masa Lalu Dalam Persfektif Kontemporer

Sejak ilmu diplomatik diciptakan oleh Mabillon (1632-1707), pemakaian dokumen sebagai sumber sejarah mulai memerlukan kritik ekstern dan kritik intern. Kritik secara ekstern memiliki orientasi atas otentisitas sumber sejarah. Apakah sumber yang digunakan otentik atau tidak, yaitu kenyataan identitasnya, bukan tiruan atau palsu. Aktualisasi kritik ini dilakukan secara analitik, mendalam, dan penuh ketelitian. Aspek inilah yang memiliki hubungan erat dengan kualitas seorang sejarawan dalam mengaktualisasikan fakta sejarah dalam persfektif kontemporer. Kritik intern memiliki orientasi atas kredibilitas, yakni bisa dipercayakah sumber, isi dokumen, fakta-fakta, dan pernyataannya. Untuk itu, perlu dilakukan identifikasi penulis, dari hal sifat dan wataknya, daya ingat, jauh dekatnya dengan peristiwa dalam dimensi waktu, dan lain sebagainya.

Dalam sebuah perkuliahan di kelas, dosen metodologi penelitian sejarah mengemukakan mengenai pentingnya teori dan metodologi dalam pendekatan kajian sejarah. Beliau mengatakan bahwa sejarah dalam artian yang sesungguhnya akan memiliki arti penting sebagai pijakan hidup bila dikaji melalui beberapa pendekatan. Dengan menggunakan teori dan metodologi, seorang sejarawan akan menghasilkan jenis sejarah baru (cabang sejarah). Kita tentunya mengenal sejarah sosial, sejarah ekonomi, sejarah kota, sejarah revolusi, dlsb. Inilah produk kreatif ketika teori dan metodologi dipergunakan dalam pengkajian peristiwa sejarah.

Proses aktualisasi internal sebuah peristiwa sejarah di masa lampau dilakukan melalui beberapa pendekatan, dalam hal ini adalah pendekatan dalam teori dan metodologinya. Ada beberapa jenis pendekatan yang digunakan oleh sejarawan dalam melakukan rekonstruksi sejarah, setidaknya ada tujuh point teori yang menghiasi cara kerja sang sejarawan dalam proses rekonstruksi.

Positivisme

Positivisme diperkenalkan oleh Auguste Comte (1798-1857) dengan karya terkenalnya, Cours de Philosophie Positive, yaitu “kursus tentang filsafat positif” (1830-1842). Positivisme menyatakan ilmu alam sebagai satu-satunya sumber pengetahuan yang benar dan menolak aktifitas yang berkenaan dengan metafisik. Tidak mengenal adanya spekulasi, semua didasarkan pada data empiris. Positivisme merupakan empirisme, yang dalam segi-segi tertentu sampai kepada kesimpulan logis ekstrim karena pengetahuan apa saja merupakan pengetahuan empiris dalam satu atau lain bentuk, maka tidak ada spekulasi dapat menjadi pengetahuan.

Hermeneutika

Hermeneutika merupakan metode tafsir yang berasal dari Yunani dan berkembang pesat sebagai metode intepretasi Bibel. Hermeneutika adalah sebuah metode interpretasi yang hidup dalam tradisi Nasrani yang kemudian menumbuhkan tradisi Barat sekuler-liberal setelah abad 16 dan 17. Dalam pengertian ini, hermeneutika bukanlah isi penafsiran, hermeneutika lebih menyinggung soal metodenya. Perbedaan antara penafsiran aktual (exegesis) dan aturan-aturan, metode dan teori yang mengaturnya (hermeneutika) sudah sejak lama disadari,ada baik dalam refleksi teologis, maupun refleksi non teologis.

Strukturalisme

Teori Strukturalisme termasuk teori Sosiologi Modern dan juga Post Modern, karena dalam perkembangannya, teori ini terus dikembangkan dan menjadi teori Post Strukturalisme. Strukturalisme memberikan perspektif baru dalam memandang fenomena budaya. Teori ini adalah jenis pendekatan social dalam memahami setiap gejala sejarah.

Asumsi dasar dalam teori strukturalisme adalah ada angapan bahwa upacara-upacara, sistem-sistem kekerabatan dan perkawinan, pola tempat tinggal, pakaian dan sebagianya, secara formal semuanya dapat dikatakan sebagai bahasa-bahasa (Lane; 1970; 13-14 Ahimsya; 66).

Selanjutnyap ara penganut strukturalisme beranggapan bahwa dalam diri manusia terdapat kemampuan dasar yang diwariskan secara genetis sehingga kemampuan ini ada pada semua manusia yang normal, yaitu kemampuan untuk structuring, untuk menstruktur, menyususun suatu struktur, atau menempelkan suatu struktur tertentu pada gejala-gejala yang dihadapinya.

Strukturalisme berkembang pesat di Perancis dengan tokoh-tokoh utama selain Claude Levi-Strauss, yaitu Micheal Foucault, J. Lacan, dan R. Barthes. Aliran ini muncul ketika filsafat eksistensialisme mulai pudar.

Semua pendekatan itu dilakukan secara procedural analitik. Diperlukan sebuah ketelitian dan ketekunan ketika kita menggunakan sebuah teori. Argumentasi yang jelas mengenai penyebab terjadinya suatu peristiwa sejarah bisa memberikan nilai tambah bagi sang sejarawan. Dalam rekonstruksi sejarah, peran dan fungsi sejarah terklasifikasikan menjadi tiga jenis, yakni:

Sejarah sebagai sebuah sistem
Sejarah sebagai kesatuan unit
Sejarah nasional sebagai unit global
Sebagaimana dikemukakan oleh Benedetto Croce[1], setiap sejarah yang benar adalah sejarah yang faktual dan aktual, dalam artian sejarah yang benar adalah sejarah masa kini yang telah mengalami rekonstruksi internal sang sejarawan. Hal ini sejalan dengan orientasi kajian teori dan metodologi sejarah dalam disiplin ilmu sejarah, yakni kebenaran pengetahuan mengenai peristiwa sejarah di masa lampau sang sejarawan atas dasar explanasi atau penjelasan sejarah yang selanjutnya bisa menghasilkan cabang-cabang dalam kajian sejarah sebagai sebuah sebuah ilmu.

Prof. Dr.Kuntowijoyo dalam buku Pengantar Ilmu Sejarah menerangkan bahwa kesimpulan sejarah harus didasarkan dengan empat tahapan:
(1) heuristik atau pengumpulan data sejarah yang betul-betul valid dan otentik
yang kemudian terbagi data primer dan sekunder;
(2) kemudian masuk kritik atau pengujian kebenaran dari data yang disajikan tersebut. Seandainya sudah betul-betul lulus uji alias kebenarannya tidak disangsikan maka data itu disebut fakta sejarah;
(3) selanjutnya masuk interpretasi. Fakta-fakta sejarah tadi kemudian diinterpretasikan dengan menggunakan bantuan ilmu-ilmu sosial atau ilmu bantu lainnya sehingga dapat diketahui hakikat dibalik kejadian sejarah atau fakta sejarah;
(4) apabila sudah melakukan interpretasi baru masuk tahapan mnyimpulkan dengan menuliskannya. Tahap inilah tahap yang disebut historiografi. Jadi, tidak asal menarik kesimpulan.

teori masuknya ajaran hindu-budha

Sebelum masuknya agama Hindu-Budha, masyarakat di Indonesia masih menganut agama yang menyembah nenek moyang, yaitu kepercayaan animisme dan dinamisme. Kepercayaan animisme (dari bahasa Latin anima atau “roh”) adalah kepercayaan kepada makhluk halus dan roh merupakan asas kepercayaan agama yang mula-mula muncul di kalangan manusia primitif. Kepercayaan animisme mempercayai bahawa setiap benda di Bumi ini, (seperti kawasan tertentu, gua, pokok atau batu besar), mempunyai jiwa yang mesti dihormati agar semangat tersebut tidak mengganggu manusia, malah membantu mereka dari semangat dan roh jahat dan juga dalam kehidupan seharian mereka.

Teori-teori masuknya agama Hindu-Budha di kepulauan Indonesia adalah sebagai berikut:

  1. Teori Bahmana

Menurut J.C van Leur teori brahmana menyatakan bahwa masuknya kebudayaan India ke Indonesia dibawa oleh para brahmana. Golongan ini  datang ke Indonesia dengan dua cara, yaitu ikut bersama para pedagang dengan tujuan menyebarkan agama atau undangan oleh para raja, untuk mengajar agama dan meningkatkan taraf kehidupan negerinya.

  1. Teori Kesatria

Menurut F.D.K Bosch teori ksatria menyatakan bahwa masuknya kebudayaan India ke Indonesia disebabkan adanya proses kolonisasi di wilayah India oleh orang-orang India. Raja-raja beserta prajurit India datang menyerang dan mengalahkan kelompok-kelompok masyarakat yang ada di Indonesia. Wilayah koloni-koloni itulah yang menjadi pusat penyebaran kebudayaan India.

  1. Teori Waisya

Menurut N.J Krom teori waisya menyatakan bahwa masuknya kebudayaan India ke Indonesia dibawa dan disebarkan oleh para pedagang India yang singgah di bandar-bandar Indonesia. Hipotesis ini memperkirakan adanya proses bertemu lewat perdagangan. Selain faktor ketertarikan, mungkin juga adanya perkawinan antara para pedagang dengan para penduduk pribumi sehingga para pasangannya mengikuti agama suami atau istri.

  1. Teori Sudra

Teori sudra menyatakan bahwa agama Hindu ke Indonesia dibawa oleh orang-orang India yang berkasta sudra, karena mereka dianggap sebagai orang-orang buangan.

  1. Teori arus balik

Menurut teori ini, yang pertama kali datang ke Indonesia adalah mereka yang memiliki semangat untuk menyebarkan Hindu-Buddha, yaitu para intelektual yang ikut menumpang kapal-kapal dagang. Setelah tiba di Indonesia, mereka menyebarkan ajarannya. Karena pengaruhnya itu, ada di antara tokoh masyarakat yang tertarik untuk mengikuti ajarannya tersebut. Pada perkembangan selanjutnya banyak orang Indonesia sendiri yang pergi ke India untuk berkunjung dan belajar agama Hindu-Buddha di India. Sekembalinya di Indonesia, merekalah yang mengajarkannya kepada masyarakat Indonesia yang lain.

Hello world!

Welcome to WordPress.com. After you read this, you should delete and write your own post, with a new title above. Or hit Add New on the left (of the admin dashboard) to start a fresh post.

Here are some suggestions for your first post.

  1. You can find new ideas for what to blog about by reading the Daily Post.
  2. Add PressThis to your browser. It creates a new blog post for you about any interesting  page you read on the web.
  3. Make some changes to this page, and then hit preview on the right. You can alway preview any post or edit you before you share it to the world.